BAKTI

Cahaya bakti untuk Ayah Bunda

1.      Mengenal Jerih Payah Ayah Bunda
Anak merupakan dambaan setiap pasangan suami isteri. Kehadirannya menjadi penyejuk pandangan orang tua, menjadi penggembira ketika susah, dan menjadi penghibur kalbu ketika gunda gulana. Kalimat “anakku sayang”, akan senantiasa terucap meski sang ibu atau bapak sedang mengalami sakit yang sangat parah. “biar bapakmu susal asal kamu tetap senang”, demikian ucapan seorang bapak yang sangat sayang pada anaknya. Seraya bermunajat dengan penuh harap kepada Allah Rabbul ‘alamin.
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Furqan: 74)
Sosok anak tidak akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari keduannya. Dia adalah darah daging keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaiannya yang pertama di dunia ini. Air susunya sebagai sumber makanan yang menumbuhkan jasadnya.
Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang ia selalu rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidur. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagiaan untuknya. Timang ayah yang dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya.
Allah berfirman (artinya): “Dan kami wasiatkan kepada manusia berbuat baik kepada keddua orang tuanya. Ibunya telah mengandung dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihkannya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (Luqman: 14)
2.      Berbakti Kepada Orang Tua Adalah Petunjuk Pada Nabi dan Rasul
Allah mengabadikan di dalam Al-Qur’an tentang kisah-kisah bakti mereka kepada orang tua, supaya dapa diambil pelajaran bagi umat manusia bahwa ini merupakan petunjuk dan jalan seluruh para nabi dan rasul. Diantaranya adalah firman Allah (artinya):
“Dan aku (yaitu Nabi Isa a.s.) adalah orang yang  berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikanku sebagai orang yang sombong lagi celaka.” (Maryam: 32).
“Dan dia (yaitu Nabi Yahya a.s.) adalah orang yang berbakti kepada orang tuanya dan dia bukanlah orang yang sombong lagi yang durhaka.” (Maryam: 14).
3.      Perintah Berbakti Kepada Orang Tua Beriringan Dengan Perintah Bertauhid
Tujuan paling agung dari dakwah para nabi dan rasul adalah tauhid yaitu beribadah hanya kepada Allah SWT semata dan tidak menyakutukan-Nya dengan sesuatupun. Dirangkaikannya antar kewajiban bertahuid dengan berbuat baik kepada orang tua di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah yang agung di sisi Allah SWT. Diantaranya firman Allah SWT:
“Katakanlah, kemarilah, aku akan membacakan apa ayng diharamkan atas kamu oleh Rabbmu janganlaj kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al An’am: 151).
“beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (An Nisa’: 36).
Di dalam As sunnah, Abu Bakrah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda (artinya): “Maukah kuberitahukan kepada kamu tentang dosa-dosa yang terbesar?” kami menjawab: “Ya, Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” (Muttafaqun ‘alaihi).
4.      Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua.
a.      Menaati perintah keduanya dan menjauhi larangannya selama tidak bermaksiat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman (artinya): “Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergaulilah mereka di dengan cara yang baik.” (Luqman: 15).
b.      Memuliakan keduanya dan berucap dengan ucapan yang baik serta tidak menghardiknya.
Allah SWT berfirman (artinya): “Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah lanjut usia (dalam peliharaanmu) maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu mwnghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (Al Isra’: 23).
c.       Tidak melakukan safar (perjalanan) jauh melainkan dengan seizin keduanya begitu juga jihad yang hukumnya fardhu kifayah.
‘Abdullah bin Amr’ bin Al ‘Ash r.a. berkata: “sesorang nabi SAW lalu berkata: ‘aku membai’atmu di atas hijrah dan jihad untuk mencari pahala dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: ‘apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab: Ya, bahkan keduanya’ (masih hidup), lalu beliau bersabda: ‘kamu ingin mencari pahala dari Allah?’ Dia menjawab: ‘Ya’. Rasulullah SAW bersabda: ‘kembalilah kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya’. (Muttafaqun ‘alaihi)
d.      Mendahulukan hak orang tua atas hak istri dan anak.
Hal ini mendasarkan hadist tentang ketiga orang yang masuk ke dalam gua lalu gua tersebut tertutup dengan batu sehingga mereka tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah SWT dengan cara berwassul dengan amal-amal shalih mereka bertawassul dengan amalan mengutamakan hak kedua orang tuanya atas hak anak-anak dan isrtinya. (H.R. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)
e.       Berterima kasih terhadap segala bentuk pengorbannya.
Direalisasikan dengan cara memenuhi kebutuhan keduanya baik harta, tenaga ataupun pikiran  dan berusaha menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu keduanya. Allah SWT berfirman (artinya): “Dan kami telah memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas  kelemahan dan menyapihnya selama dalam usia dua tahun maka bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman: 14)
5.      Hakekat kecintaan dan berbakti kepada orang tua
Hakekat seorang anak yang cinta dan berbakti kepada orang tua manakala ia menjadi sebab orangtua tetap tsabat (kokoh) memegang prinsip-prinsip agama, atau sabar membimbing keduanya supaya masuk ke dalam agama Islam bila keduanya masih kafir. Sebaliknya hakekat kedurhakaan seorang anak manakala ia menjadi fitnah sehingga menyebabkan orang tuanya terjatuh dalam perbuatan maksiat atau bahkan kekufuran.
Jadikanlah kedua orang tuamu sebagai ladang bercocok taman untuk akhiratmu dan sebagai jembatan pengantar menujun al jannah (surga)! Nabi SAW bersabda (artinya):
“Nista dan hina, nista dan hina, nista dan hina.” Lalu ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah ? “Beliau besabda: “Yaitu yang mendapati orang kedua orang tuanya (masih hidup) lalu tidak menyebabkan dia masuk ke dalam surga. (H.R. Muslim no. 2551)
6.      Berbakti Kepada Orang Tua Tetap Berlangsung Walaupun Keduanya Sudah Wafat
Ikatan batin dan fitrah seorang anak kepada kedua orang tuanya tidak akan hilang walaupun keduanya telah wafat. Agama Islam tetap mensyari’atkan untuk berbakti kepad orang tua walaupun keduanya telah tiada. Beberapa amalan mulia yang dapat dilakukan sepeninggalan keduanya adalah:
a.       Mendoakan kebaikan, memohonkan magfirah (ampunan) dan rahmat  bagi keduanya. Rasulullah SAW bersabda: Ada seseorang yang dinaikkan derajatnya setelah ia mati, maka ai bertanya: “wahai Rabbku, ada apa ini?” dikatakan kepadanya: “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (Shahih Ibnu Majah no. 3660, karya Asy syaikh Al Abani).
b.      Memperbanyak amalan shalih.
Sesungguhnya orang tua akan mendapatkan balasan (pahala/ganjaran) dari amalan shalih yang dilakukan oleh anaknya, Karena anak itu termasuk dari usahanya, dan harapannya. Allah SWT berfirman (artinya):
“Dan sesungguhnya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah ia usahkan sendiri.” (An Najm: 39)
Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri, dan sesungguhnya seorang anak termasuk dari usahanya (orang tua).” (H.R. Abu Dawud, lihat Ahkamul Jana’iz karya Asy Syaikh Al Abani hal. 216).
c.       Menyambung silaturahmi (kekerabatan) yang berasal dari keduanya.
d.      Menyambung persaudaraan dengan keluarga kawan orang tuanya. Rasulullah SAW bersabda (artinya): “Sesungguhnya kebaikan yang terbaik adalah menyambung persaudaraan dari keluarga kawan bapaknya.” (H.R. Muslim).
e.       Memenuhi wasiat keduanya, selama wasiat tersebut dalam hal yang ma’ruf (baik).
7.      Sikap Terhadap Orang Tua Yang kafir
kekufuran orang tua bukan penghalang untuk berbakti dan bergaul dengan keduanya secara baik. Allah SWT berfirman (artinya):
“Jika keduanya memaksaku untuk menyekutukan aku yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergauhilah mereka didunia dengan cara yang baik.” (Luqman: 15).
Asma’ binti Abi Bakr r.a. berkata: “Pada masa perjanjian damai antara Quraisy dengan Nabi SAW ibuku datang, padahal dia seorang wanita musyrik. Maka aku bertanya kepada Nabi SAW : “Sesungguhnya ibuku datang, namun dia seorang wanita yang musyrik dan memintaku untuk berbuat baik kepadanya. Maka apakah aku boleh menyambung (hubungan) denganya?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (H.R. Al Bukhari)
8.      Hikmah Berbakti Kepada kedua Orang Tua
Sesungguhnya keutamaan dan buah dari berbakti kepada kedua orang tua sangatlah agung dan besar, di antaranya:
a.       Diterimanya amalan shalih dan dihapuskan dosa-dosa baginya. (Al Ahqaf: 15-16)
b.      Terkabulnya do’a. (H.R. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no.2743)
c.       Kelapangan hidup.
Dari Anas bin Malik r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung persaudaraan (keluarga).” (H.R. Al Bukhari)
9.      Kemalangan Mendurhakai Orang Tua
Durhaka kepada orang tua merupakan lawan dari berbakti kepada keduanya. Diantara bentuk durhaka kepada orang tua adalah: tidak peduli dengan penderitaan yang dialami orang tua, tidak mau mengakui keberadaan orang tuanya karena jauhnya perbedaan status antara ai dengan keduanya, mencaci maki keduanya, membentak dan menghardik, memukul, memperbudak, mengkhhianati,, mendustai, menipu, tidak taat kepada perintah keduanya dan sebagainya dari bentuk  kesurhakaan kepada orang tua. Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga orang yang tidak akan diterima amalan wajib maupun sunnah oleh Allha SWT pada hari kiamat yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (Shahihul Jami’ karya Asy Syaikh Al Albani no. 3060
     

Akhir kata semoga bahasan kali ini dapat menjadikan kita selalu berbakti kepada orang tua dan menjauhkah kita dari sikap durhaka kepada keduanya. Amiin, Yaa Rabbal ‘Aalamiin..


Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan Populer